syarat penyerahan barang dalam akuntansi

DALAM transaksi perdagangan internasional, penentuan syarat penyerahan barang (terms of delivery) dari penjual kepada pembeli sangat penting dilakukan. Tujuannya agar tidak terjadi kesalahpahaman dan perselisihan dalam proses pengiriman barang. Ini sangat penting karena menyangkut masalah biaya dan risiko. Dengan penentuan terms of delivery yang jelas, akan jelas pula pembagian biaya dan risiko masing-masing pihak.
Terms of delivery yang telah disepakati harus dimasukkan ke dalam sales contract antara penjual dan pembeli, baru nanti diaplikasikan pada pengiriman barang dan dimaktubkan pada dokumen transportnya, misalnya pada bill of lading (B/L) jika menggunakan kapal laut, airway bill (AWB) jika menggunakan pesawat terbang, atau Surat Jalan/ Delivery Note jika menggunakan sarana darat.
Dalam praktik umum perdagangan internasional, pasal-pasal dalam sales contract mengenai terms of delivery mengacu pada International Commercial Terms versi tahun 2000 (Incoterms 2000) sebagai penyeragaman penafsiran terhadap pelaksanaan syarat penyerahan barang, peralihan risiko, dan biaya dari penjual kepada pembeli berdasarkan sarana transportasi yang digunakan
Dalam Incoterms 2000, terms of delivery ada 13 macam yang dikelompokkan ke dalam 4 kategori, masing-masing berdasarkan inisial mereka:
1. Syarat “E” untuk EXW
Penjual menyediakan barangnya di tempatnya sendiri (misalnya di pabrik atau gudangnya). Pembeli harus mengurus sendiri pengangkutan barang dari negara penjual.
2. Syarat “F” untuk FCA, FAS, FOB
Penjual hanya berkewajiban menyerahkan atau mengantarkan barangnya ke sarana pengangkutan yang ditunjuk oleh pembeli.
3. Syarat “C” untuk CFR, CIF, CPT, CIP
Penjual harus menanggung biaya pengangkutan, dan untuk itu harus membuat kontrak pengangkutan (carriage contract), tapi tidak menanggung risiko kehilangan atau kerusakan barang, dan juga tidak menanggung biaya tambahan yang mungkin timbul setelah pengapalan dan pelepasan barang (dispatch).
4. Syarat “D” untuk DAF, DES, DEQ, DDU, DDP
Penjual berkewajiban menanggung semua biaya dan risiko atas pengiriman barang hingga ke pelabuhan tujuan.
Setelah kita mengetahui 4 kategori terms of delivery, kini kita akan mengenal lebih rinci masing-masing syarat penyerahan barang sesuai Incoterms 2000 di atas mengenai siapa yang menanggung biaya pengangkutan, pembagian risiko barang, dan izin kepabeanan (clearance):
1. EXW => Ex Works (…nama tempat)
= Penyerahan barang dan peralihan risiko dari penjual kepada pembeli dilakukan di tempat penjual.
= Kewajiban penjual adalah hanya menyediakan barang di tempatnya (pabrik/ gudang). Sementara pembeli berkewajiban mengurus pengangkutan.
= Biaya pengangkutan, izin kepabeanan di wilayah negara penjual maupun pembeli (export-import clearance), dan risiko sejak barang diangkut dari pabrik/ gudang penjual hingga ke tempat pembeli adalah tanggung jawab pembeli.
2. FCA => Free Carrier At (…nama tempat)
= penyerahan barang dan peralihan risiko dari penjual kepada pembeli dilakukan pada saat barang diserahkan kepada pihak pengangkut yang ditunjuk oleh pembeli.
= Kewajiban penjual adalah menyiapkan pengangkutan atas nama pembeli. Sementara pembeli bertugas menentukan pengangkut (carrier) dan membuat kontrak pengangkutan (carriage contract).
= Izin kepabeanan di wilayah penjual (export clearance) menjadi tanggung jawab penjual. Sedangkan biaya pengangkutan, risiko sejak barang diserahkan oleh penjual kepada pihak pengangkut (carrier) hingga ke tempat pembeli,
3. FAS => Free Alongside Ship (…nama pelabuhan muat)
= Penyerahan barang dan peralihan risiko dari penjual kepada pembeli dilakukan pada saat barang ditempatkan di samping kapal.
= Penjual berkewajiban menempatkan barang di samping kapal. Sedangkan kewajiban pembeli adalah menentukan pengangkut dan membuat kontrak pengangkutan.
= Izin kepabeanan di wilayah penjual (export clearance) menjadi tanggung jawab penjual. Sedangkan biaya pengangkutan maupun risiko sejak barang ditempatkan di samping kapal oleh penjual sampai ke tempat pembeli serta import clearance menjadi tanggung jawab pembeli.
4. FOB => Free On Board (…nama pelabuhan muat)
= Penyerahan barang dan peralihan risiko dari penjual kepada pembeli dilakukan pada saat barang telah dimuat di atas kapal (on board).
= Kewajiban penjual adalah menempatkan barang di atas kapal dan menanggung biaya muat. Sedangkan kewajiban pembeli adalah menentukan pengangkut, menentukan kontrak pengangkutan, dan menanggung biaya angkut dan biaya bongkar.
= Export clearance dan biaya muat di atas kapal menjadi beban penjual. Sedangkan biaya pengangkutan maupun risiko sejak barang dimuat di atas kapal oleh penjual hingga ke tempat pembeli, serta import clearance menjadi beban pembeli.
5. CFR => Cost and Freight (…nama pelabuhan tujuan)
= Ada juga yang menyebutnya dengan CNF, C&F, C and F, atau C+F. Namun penggunaan yang baku menurut Incoterms 2000 adalah CFR.
= Penyerahan barang dan peralihan risiko dari penjual kepada pembeli dilakukan pada saat barang telah dimuat di atas kapal (on board).
= Penjual berkewajiban menentukan pengangkut, membuat kontrak pengangkutan, menempatkan barang di atas kapal, menanggung biaya muat, dan ongkos angkut hingga pelabuhan tujuan. Sedangkan kewajiban pembeli adalah menanggung biaya di luar beban penjual sesuai kontrak pengangkutan.
= Export clearance dan biaya pengangkutan menjadi beban penjual, sedangkan risiko sejak barang dimuat di atas kapal oleh penjual hingga ke pelabuhan tujuan serta import clearance menjadi tanggung jawab pembeli.
6. CIF => Cost Insurance and Freight (…nama pelabuhan tujuan)
= Penyerahan barang dan peralihan risiko dari penjual kepada pembeli dilakukan pada saat barang telah dimuat di atas kapal (on board).
= Kewajiban penjual adalah menentukan pengangkut (carrier), membuat kontrak pengangkutan, menempatkan barang di atas kapal, menanggung biaya muat, ongkos angkut, dan biaya bongkar di pelabuhan tujuan, serta biaya asuransi. Sedangkan kewajiban pembeli adalah menanggung biaya di luar beban penjual sesuai kontrak pengangkutan.
= Export clearance, biaya pengangkutan, dan biaya asuransi menjadi beban penjual. Sedangkan import clearance menjadi beban pembeli.
7. CPT => Carriage Paid To (…nama tempat tujuan)
= Syarat ini digunakan dalam hal pengangkutan barang dilakukan menggunakan multimoda transport. Penyerahan barang dan peralihan risiko dari penjual kepada pembeli dilakukan pada saat barang telah dimuat di atas alat angkut yang pertama.
= Penjual berkewajiban menentukan pengangkut (carrier), membuat kontrak pengangkutan, menyerahkan barang kepada pengangkut pertama, membayar biaya muat, ongkos angkut, dan biaya bongkar di tempat tujuan. Sedangkan pembeli berkewajiban menanggung biaya di luar beban penjual sesuai kontrak pengangkutan.
= Export clearance, ongkos-ongkos, dan biaya pengangkutan menjadi beban penjual. Sedangkan risiko sejak barang diserahkan kepada pengangkut pertama oleh penjual hingga ke tempat tujuan serta import clearance menjadi beban pembeli.
8. CIP => Carriage and Insurance Paid (…nama tempat tujuan)
= Syarat ini digunakan dalam hal pengangkutan barang dilakukan menggunakan multimoda transport. Penyerahan barang dan peralihan risiko dari penjual kepada pembeli dilakukan pada saat barang telah dimuat di atas alat angkut yang pertama.
= Penjual berkewajiban menentukan pengangkut, membuat kontrak pengangkutan, menyerahkan barang kepada pengangkut pertama, membayar biaya muat, ongkos angkut, biaya bongkar di tempat tujuan, dan biaya asuransi. Sedangkan kewajiban pembeli adalah membayar biaya di luar beban penjual sesuai kontrak pengangkutan.
= Export clearance, ongkos-ongkos, biaya pengangkutan, dan biaya asuransi menjadi beban penjual, sedangkan import clearance menjadi beban pembeli.
9. DAF => Delivered At Frontier (…nama tempat)
= Syarat ini digunakan dalam hal pengangkutan barang dilakukan menggunakan multimoda transport. Penyerahan barang dan peralihan risiko dari penjual kepada pembeli dilakukan di suatu tempat perbatasan di luar wilayah penjual.
= Penjual berkewajiban menentukan pengangkut, membuat kontrak pengangkutan, membayar biaya muat, ongkos angkut, biaya bongkar, dan menyerahkan barang kepada pembeli di suatu tempat perbatasan di luar wilayah penjual. Sedangkan pembeli berkewajiban membayar biaya pengangkutan dan ongkos di luar wilayah penjual.
= Export clearance, biaya pengangkutan, ongkos, dan risiko hingga di suatu tempat perbatasan di luar wilayah penjual menjadi tanggung jawab penjual. Sedangkan import clearance, biaya pengangkutan, ongkos, dan risiko di tempat perbatasan di luar silayah penjual hingga tempat tujuan menjadi tanggung jawab pembeli.
10. DES => Delivered Ex Ship (…nama pelabuhan tujuan)
= Penyerahan barang dan peralihan risiko dari penjual kepada pembeli dilakukan di atas kapal (on board) di pelabuhan tujuan.
= Penjual berkewajiban menentukan pengangkut, membuat kontrak pengangkutan, membayar biaya muat, ongkos angkut, menyerahkan barang di atas kapal kepada pembeli di pelabuhan tujuan. Sedangkan kewajiban pembeli membayar biaya bongkar di pelabuhan tujuan.
= Export clearance, biaya pengangkutan, ongkos-ongkos dan risiko hingga pelabuhan tujuan menjadi tanggung jawab penjual. Sedangkan import clearance, biaya bongkar di pelabuhan tujuan, dan risiko hingga tujuan akhir menjadi tanggung jawab pembeli.
11. DEQ => Delivered At Quay (…nama pelabuhan tujuan)
= Penyerahan barang dan peralihan risiko dari penjual kepada pembeli dilakukan di tempat tujuan bongkar barang.
= Kewajiban penjual adalah menentukan pengangkut, membuat kontrak pengangkutan, membayar biaya muat, ongkos angkut, biaya bongkar, dan menyerahkan barang kepada pembeli di tempat tujuan bongkar barang. Sedangkan kewajiban pembeli menerima barang di tempat tujuan bongkar barang.
=> Export clearance, biaya pengangkutan, ongkos-ongkos dan risiko hingga tempat tujuan bongkar barang menjadi tanggung jawab penjual. Sedangkan import clearance menjadi beban pembeli.
12. DDU => Delivered Duty Unpaid (…nama tempat tujuan)
= Penyerahan barang dan peralihan risiko dari penjual kepada pembeli dilakukan di tempat tujuan bongkar barang, tanpa penyelesaian import clearance.
= Kewajiban penjual adalah menentukan pengangkut, membuat kontrak pengangkutan, membayar biaya muat, ongkos angkut, biaya bongkar dan menyerahkan barang kepada pembeli di tempat tujuan bongkar barang. Sedangkan kewajiban pembeli adalah menerima barang di tempat tujuan bongkar barang.
= Export clearance, biaya pengangkutan, ongkos-ongkos, dan risiko hingga tempat tujuan bongkar barang menjadi tanggung jawab penjual. Sedangkan pembeli wajib menanggung import clearance-nya.
13. DDP => Delivered Duty Paid (…nama tempat tujuan)
= Penyerahan barang dan peralihan risiko dari penjual kepada pembeli dilakukan di tempat tujuan bongkar barang, termasuk penyelesaian import clearance.
= Kewajiban penjual adalah menentukan pengangkut, membuat kontrak pengangkutan, membayar biaya muat, ongkos angkut, biaya bongkar dan menyerahkan barang kepada pembeli di tempat tujuan bongkar barang. Sedangkan kewajiban pembeli adalah menerima barang di tempat tujuan bongkar barang.
= Export-import clearance, biaya pengangkutan, ongkos-ongkos, dan risiko hingga tempat tujuan bongkar barang menjadi tanggung jawab penjual.
Syarat Incoterms 2000 berdasarkan sarana transportasi
Ketiga belas syarat penyerahan barang di atas dapat kita golongkan lagi sesuai dengan sarana transportasi pengangkutan barang yang disepakati penjual dan pembeli, yaitu berikut ini:
= Sarana transport umum
+ Kelompok E => EXW
+ Kelompok F => FCA
+ Kelompok C => CPT, CIP
+ Kelompok D => DAF, DDU, DDP
= Khusus sarana transport laut dan sungai
+ Kelompok F => FAS, FOB
+ Kelompok C => CFR, CIF
+ Kelompok D => DES, DEQ

Pada praktiknya, tidak semua syarat penyerahan barang dalam Incoterms 2000 digunakan dalam transaksi perdagangan internasional, apakah transaksi dengan metode open account, advance payment, collection, maupun letter of credit (L/C). yang paling sering digunakan adalah syarat FOB, CFR, dan CIF. Ketiganya menurut saya adalah yang paling moderate dilihat dari siapa yang menanggung biaya pengangkutan dan risiko barang selama dalam perjalanan.

 

Transaksi perdagangan internasional itu dinamis. Suatu kegiatan jual beli yang melintasi batas teritorial negara yang pada dasarnya dimiliki oleh dua pihak, yaitu penjual (eksportir) dan pembeli (importir). Namun, pada praktiknya, juga melibatkan pihak-pihak lain. Siapa mereka? Bank, perusahaan pelayaran, bea cukai, surveyor, hingga departemen pemerintahan.
Selain pada pihak-pihak yang terlibat, perdagangan internasional juga memiliki lingkaran dinamika pada tingkat yang lebih mendasar, yaitu bentuk dan metode jual-beli itu sendiri. Ada beberapa opsi yang bisa diambil oleh penjual dan pembeli, mulai dari jenis transaksi tanpa jaminan dari bank (non L/C) seperti open account, advance payment, konsinyasi, dan documentary collection; hingga transaksi yang melibatkan bank sebagai penjamin seperti letter of credit (L/C).
Sekarang kita coba flashback. Sebelum penjual dan pembeli melibatkan diri dalam proses perdagangan internasional dengan mengikutsertakan pihak-pihak lain, serta terlibat dalam proses perdagangan yang rumit –apapun metode yang mereka pilih-, mereka terlebih dahulu berpegangan pada perjanjian yang mereka buat pertama kali sebagai underlying mereka, yaitu Sales Contract.
Ya, sales contract adalah awal dari proses jual beli dalam ranah perdagangan internasional. Sales contract memuat kesepakatan atau perjanjian antara penjual dan pembeli dalam bentuk dokumen yang pada prinsipnya menyatakan hak dan kewajiban mereka.
Dalam praktiknya sih bentuk sales contract ada berbagai macam. Mulai dari kontrak yang bersifat notariil, di bawah tangan, sampai cuma sekadar pesanan berupa faksimil. Atau bahkan pembicaraan per telepon pun dapat dianggap sebagai suatu sales contract. Tapi untuk baiknya, dan supaya terhindar dari perselisihan di kemudian hari, sebaiknya sales contract dibuat secara tertulis.
Mengenai isi, secara umum, sales contract memuat klausul-klausul kesepakatan yang relatif sama. Itu terlepas dari metode jual-beli yang mereka pilih, apakah L/C atau non L/C. Dan klausul-klausul yang dicantumkan umumnya mencakup hal-hal berikut:
1. Syarat tentang barang (terms of goods)
a. Rincian barang, meliputi:
– Jenis barang (kind of goods)
– Tipe barang (type of goods)
– Spesifikasi barang (spesification of goods)
– Keaslian barang (originality of goods)
– Asal barang (origin of goods)
b. Jumlah dan kualitas barang (quantity and quality of goods)
c. Harga barang (price of goods)
2. Syarat pengiriman barang
Meliputi:
– Pelabuhan muat dan pelabuhan tujuan (port of loading and port of destination)
– Pengiriman sebagian (partial shipment) diperbolehkan atau tidak
– Pindah kapal (transhipment) diperbolehkan atau tidak
3. Syarat penyerahan barang (terms of delivery)
Klausul-klausul dalam sales contract mengenai syarat ini umumnya mengacu pada International Commercial Terms (INCOTERMS) 2000 untuk menyeragamkan penafsiran pelaksanaan syarat penyerahan barang, peralihan risiko dan biaya dari penjual kepada pembeli berdasarkan jenis sarana transportasi yang digunakan.
Jenis-jenis syarat penyerahan barang (terms of delivery) menurut INCOTERMS 2000 meliputi:
1. Ex Works (EXW)
2. Free Carrier At (FCA)
3. Free Alongside Ship (FAS)
4. Free on Board (FOB)
5. Cost and Freight (CFR)
6. Cost Insurance and Freight (CIF)
7. Carrier Paid To (CPT)
8. Carrier and Insurance paid (CIP)
9. Delivered at Frontier (DAF)
10. Delivered Ex Ship (DES)
11. Delivered At Quay (DEQ)
12. Delivered Duty Unpaid (DDU)
13. Delivered Duty paid (DDP)
Karena penjelasan mengenai masing-masing jenis terms of delivery di atas membutuhkan rincian mendetail, maka akan saya kupas pada artikel yang lain. Namun pada praktiknya, tidak semua jenis terms of delivery di atas digunakan pada transaksi-transaksi perdagangan internasional. Yang paling sering digunakan adalah FOB, CFR, dan CIF.
4. Syarat pembayaran (terms of payment)
a. Pembayaran tanpa L/C (non L/C), meliputi:
– Open account
– Advance payment
– Consignment (konsinyasi)
– Collection
b. Pembayaran dengan L/C, terdiri dari:
– Sight L/C
– Usance L/C
– Red clause L/C
5. Syarat dokumen (documentations)
Klausul ini berisi kesepakatan tentang dokumen-dokumen apa saja yang diperlukan dalam rangka realisasi sales contract, terdiri dari:
a. Dokumen finansial, berupa draft/ wesel perintah tidak bersyarat untuk membayar sejumlah uang
b. Dokumen komersial, meliputi:
– Invoice/ faktur, sebagai bukti penjualan barang
– Dokumen transportasi, sebagai bukti pengiriman barang
– Dokumen asuransi, sebagai bukti penutupan risiko/ asuransi
– Dokumen lainnya, seperti Certificate of Origin, Certificate of Analysis, Certificate of Inspection, Packing List, dll.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: